Laman

BERITA TERKINI

Kamis, 08 Juli 2010

F16 TNI AU

f-16 TNI AU


F-16 TNI AU,


AS Terus Bantu Perawatan F-16 TNI-AU

Selasa, 04 Januari 2011, 21:46 WIB
Smaller  Reset  Larger
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Pemerintah Amerika Serikat (AS) terus membantu perawatan dan pemeliharaan pesawat tempur F-16 TNI Angkatan Udara. Mantan Komandan Komando Angkatan Udara AS kawasan Asia Pasifik (US PACAF) Jenderal (Purn) William J Begert mengatakan hal itu saat mengadakan kunjungan kehormatan kepada Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat di Jakarta, Selasa.

Juru bicara TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro usai menghadiri pertemuan itu menyampaikan, perawatan dan pemeliharaan mesin F-16 TNI Angkatan Udara oleh AS sudah berjalan normal pascaembargo. "Sudah tiga tahun ini mereka membantu dan memantau perawatan dan pemeliharaan mesin dan suku cadang F-16 kita," ungkap Bambang.

Perawatan dan pemeliharaan dilakukan oleh perusahaan Pratt & Whitney, dimana William Begert menjabat sebagai Vice President Business Development & Aftermarket Sales and Services
perusahaan tersebut. Bambang menambahkan, mereka terdiri atas beberapa tim yang rutin datang dua kali setahun melakukan pengecekan terhadap pesawat-pesawat F-16 yang bermarkas di Pangkalan Udara Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur.

"Secara umum, perawatan dan pemeliharaan mesin yang dilakukan, disesuaikan dengan kondisi yang ada berlanjut seperti sebelum embargo dilakukan dan kemudian dicabut pada November 2005," katanya. TNI Angkatan Udara kini memiliki 10 unit pesawat F-16 Fighting Falcon yang bermarkas di Skuadron Udara 3 Pangkalan Udara Iswahjudi.
Red: Krisman Purwoko
REPUBLIKA



Barisan F16



[/IMG]http://www.kaskus.us/showthread.php?p=194068170


foto kompas


F-16A Block 15 OCU


F-16B Block 15 OCU 

Berikut adalah kutipan yang dikutip dari situs Angkasa , tentang pengabdian F-16, yang ditulis oleh 3 orang penulis yaitu Rodi Suprasojo, F. Djoko Poerwoko dan Letkol Pnb Age Wiraksono, S.IP, MA
Tanggal 12 Desember 1989, roda-roda jet tempur F-16 TNI AU mendarat untuk pertama kalinya di bumi Indonesia. Sejak saat itu kiprahnya sebagai pengawal ruang udara nasional dipertaruhkan.
Program pengadaan F-16 di Indonesia berada dibawah Proyek Bima Sena. Indonesia akuisisi 12 F-16A/B Block 15 OCU Standard dengan harga per pesawat 32 juta dollar AS. Sebagai persiapan, TNI AU mengirim empat penerbang ke Luke AFB guna menjalani program latihan terbang. Mereka terdiri dari Letkol Pnb Wartoyo, Mayor Pnb Basri Sidehabi, Mayor Pnb Rodi Suprasodjo dan Mayor Pnb Eris Heryanto. Keempat perwira mengikuti pendidikan selama enam bulan. Setelah 17 tahun, tercatat 41 penerbang telah memperoleh call sign Dragon, kombatan pilot F-16. Dari 41 pilot, 2 dantaranya telah mencapai 2.000 jam sedang 8 pilot telah menembus angka 1.000 jam satu prestasi bagi pilot TNI AU selama 17 tahun mengoperasikan pesawat F-16 Block-15 OCU (Operational Capability Upgrade).

Tipe       Nomor      Seri   Kedatangan           Keterangan
F-16B   TS-1601       5      Desember 1989           -
F-16B   TS-1602      5       Desember 1989           -
F-16B   TS-1603      5       Mei 1990                       -
F-16B   TS-1604      5       Mei 1990              Spin dan jatuh di Tulungagung 15 Juni 1992, penerbang eject dan selamat
F-16A  TS-1605      5       Desember 1989           -
F-16A  TS-1606      2       Januari 1990                -
F-16A  TS-1607     5        Mei 1990                 Jatuh di ujung runway 24 Lanud Halim 10 Maret 1997, penerbang gugur
F-16A  TS-1608      3       Mei 1990                         -
F-16A  TS-1609    18      September 1990           -
F-16A TS-1610     18      September 1990           -
F-16A TS-1611     18       September 1990          -
F-16A TS-1612    18        September 1990          -
Long Road to Home
Tidak habis pikir kalau saya harus ikut ferry pesawat ini ke Iswahjudi, mengingat waktu keberangkatan dari Indonesia ke Amerika memakan waktu lama. Perjalanan dengan airline sungguh menyenangkan dan dilayani oleh pramugari yang ramah.
Bandingkan dengan perjalanan pulang di dalam kokpit pesawat yang sempit, terikat di kursi lontar sepanjang perjalanan, memelototi instrumen pesawat, setiap kali harus menyocokkan rute dan kalkulasi bahan bakar untuk diisi di udara. Bila pengisian bahan bakar gagal karena berbagai sebab, harus memutuskan terbang ke alternated agar selamat atau terpaksa kampul-kampul di Samudera Pasifik sampai pertolongan datang.
Tidak, aku harus tetap ikut. Selain kebanggaan juga akan menambah pengalaman membawa sendiri pesawat baru ke Tanah Air. Pesawat yang aku pelajari bersama tiga rekan ini harus sampai di negeriku dengan aman.
Tanpa ragu, tuas tenaga kudorong penuh sambil kulirik instrumen mesin. Setelah semua oke, kudorong lagi tuas agar tenaga masuk dalam after burner range. Tersentak aku dibuatnya. Mau tahu fuel consumption saat itu, 20.000 lbs/jam. Berarti pesawat akan melahap 20.000 lbs bahan bakar, setara dengan 10 ton/jam. Aku berpikir sesaat. Andai kata bahan bakar ini aku pakai untuk mobil bututku di Madiun, tentu dapat dipakai selama satu setengah tahun atau pulang ke Solo dari Madiun sebanyak 500 kali. Gila pikirku!
Kegilaan itu bukan seberapa bila dilihat rencana penerbangan dari Forth Word AFB, Dallas ke Lanud Iswahjudi. Jarak sejauh itu akan ditempuh dalam tiga etape. Sangat sulit karena aku belum pernah melakukannya.
Etape pertama dari Fort Word menuju Hickam AFB di Hawai selama delapan jam terbang. Aku rasa etape perama ini masih aman. Kami terbang di atas daratan yang penuh sarana navigasi. Aku pikir pertolongan pasti cepat datang andaikata terjadi sesuatu, apalagi pesawat masih pakai registrasi USAF.
“You are a rich pilot, Rodi.” Terdengan dari intercom pilot AU AS yang ikut ferry bercerita bahwa untuk kegiatan ini mereka mendapat ratusan ribu dollar. Cerita yang hanya aku telan saja, mereka tidak tahu bahwa untuk tugas yang berbahaya ini aku cuma mendapat Rp 500.000 saja sebagai uang lelah.
Pada jam ke dua setelah bertolak, pengisian bahan bakar dimulai dari pesawat KC-135 sebanyak enam kali. Setiap kali diisi 1.500 hingga 3.300 lbs. Pokoknya sisa bahan bakar di pesawat harus dapat mencapai alternate base. Mendarat di Hawai sudah cukup sore. Kami beristirahat selama tiga malam sebelum melanjutkan penerbangan jauh ke Guam. Di Hawai aku sempat menghadiri upacara penyerangan Jepang atas Pearl Harbour yang terjadi 7 Desember 1941. Anehnya dalam acara ini banyak turis Jepang hadir, mungkin mereka terlibat dalam penyerangan ini.
Etape kedua merupakan yang terberat dilihat dari jarak dan medan. Kami akan terbang sembilan jam, tujuh kali pengisian bahan bakar dan tanpa melewati secuil pun daratan. Alternated-nya adalah Pulau Midway, nama yang hanya kukenal dalam sejarah Perang Pasifik.
Kelengkapan emergency over sea meskipun tidak terlihat, aku yakin bahwa satu dingy one man, survival kit berisi desert or sea or jungle food cukup untuk satu minggu. Termasuk alat komunikasi pada frekwensi 121,5 Mz dan 243 Mz serta berbagai kelengkapan yang terbungkus dalam water proof pack. Aku akan terbang pada kecepatan 480 knots dan ketinggian 25.000 kaki untuk menyamakan dengan KC-10 sebagai pesawat tanker yang selalu menyertai.
Setelah istirahat di Guam dua malam, etape terakhir menuju Lanud Iswahjudi dapat dikatakan etape tersenang. Senang karena mau pulang, senang karena sebagian lewat daratan dan senang karena aku duduk di kursi depan, pilot in command.
“Falcon Flight, steady,” suara di heat set yang membawa ketenangan hati. Kata-kata itu bermakna aku harus tetap terbang untuk mendapat tambahan bahan bakar terakhir sebanyak 2.000 lbs tepat di atas Balikpapan. Pelaksanaan refueling untuk pesawat F-16 memakai refueller boom, agak beda dengan sistem A-4 Skyhawk yang memakai probe and drogue. Selama ferry pesawat memperlukan bahan bakar sekitar 3.000 lbs/jam pada kecepatan Mach .85. Lain halnya waktu memakai after burner, bahan bakar akan melonjak menjadi 20.000 lbs/jam.
“Selamat datang pak, sampai Madiun cuaca baik kok,” tersentak aku mendengarkan dari suara controller sewaktu masuk ruang udara Indonesia. Bahasa yang sangat kukenal meskipun tidak dalam format calling procedure. Sungguh membuat hati tenteram.
Sapaan tersebut bermakna aku sudah terbang di atas wilayah kedaulatan Indonesia yang kelak harus aku jaga. Sejujurnya aku ingin cepat sampai di Madiun dan mendarat dengan aman untuk kemudian menemui keluarga. Ternyata pesawat harus pass beberapa kali di atas landasan supaya para penggede dan tamu bisa melihat pesawat F-16 Fighting Falcon yang baru datang dari Paman Sam itu.
Kemampuan tanguh
Sejujurnya pesawat F-16 ditempel ketat oleh Mirage 2000 sebelum dipilih TNI AU. Kemampuan lebih dan pengalaman tempur yang dimiliki F-16, menjadi dasar pemilihan. Sebut saja kemampuan tinggal landas dan mendarat pada landasan pendek, pernah dicoba dengan selamat dan aman. Saat itu satu flight F-16 mendarat di Lanud Adi Sutjipto, Yogyakarta dan Lanud Abdul Rahman Saleh, Malang dalam latihan rutin tahun 2001.
Dengan ditenagai mesin Part & Whitney F100-PW.229 berdaya 24.000 lbs, pesawat ini mampu melesat pada kecepatan 2.173 km/jam (Mach 2). Selain itu, F-16 mampu menanjak dan berbelok sangat tajam pada rate of turn 19 derajat/detik dengan beban 9G serta mendarat dengan landing roll hanya sejauh 600 m pada kecepatan 155 knot. F-16 milik TNI AU secara khusus dilengkapi drag chute. Sungguh pesawat tempur sangat andal, dengan side control berbasis fly by wire.
Untuk kelanjutan pengabdiannya, TNI AU telah mendadani F-16 dengan program yang disebut Falcon Up. Intinya agar bisa lebih lama lagi dioperasikan, minimal tambah 10 tahun. Program yang dapat diselesaikan selama dua tahun untuk sepuluh pesawat ini, menjadi prestasi tersendiri tatkala pelaksanannya Skatek 042 Lanud Iswahjudi. Dengan enam tenaga asing yang bertindak sebagai supervisi, proyek selesai tepat waktu. Untuk test pilot ditangani penerbang kita. Biasanya program Falcon Up dipercayakan kepada Lockheed Martin. Namun dengan kemandirian yang prima, ternyata aturan itu tidak berlaku di Indonesia.
Upaya mempercantik pesawat juga pernah dilakukan. Utamanya mengubah warna dari Triple Spot Grey (1989) menjadi Falcon Colors (1996). Era milennium diubah lagi menjadi Millennium Color Scheme (2000), termasuk menambah pernik nose number dan tail flash.
Tidak selamanya pengabdian itu berjalan mulus. Selama 17 tahun itu juga ada pengorbanan. Dua pesawat telah jatuh sewaktu latihan rutin. Pertama di Tulungagung dan kedua di Halim. Kejadian terakhir menewaskan Kapten Pnb Dwi Sasongko.
Sejumlah insiden minor juga mewarnai perjalanan pesawat seharga 32 juta dollar AS. Mengacu jenisnya (jet tempur), mestinya F-16 masuk Skadron Udara 16 (baru). Aturan dalam sistem penomoran skadron di TNI AU, kavling angka 11 hingga 19 diberikan kepada jet tempur (kecuali angka keramat 17 untuk Skadron VIP). Faktor sejarah dan kebanggaan memaksa F-16 dijadikan Skadron Udara 3 dengan menggeser OV-10 menjadi flight OV-10 sebelum menjadi Skadron Udara 1. Di Skadron Udara 1 pun, OV-10 tidak bertahan lama sebelum terpaksa menjadi Unit OV-10. Baru nanti tahun 2002, OV-10 menetap di Skadron Udara 21 sesuai kavling peruntukannya sebagai pembom. Skadron ini dulu dihuni pembom taktis Ilyusin 28.
Memang F-16 diperlakukan sangat istimewa. Selain menghuni Skadron Udara 3, kehadirannya juga menggeser hangar yang dihuni A-4 Skyhawk. Sebelum kedatangan sang Falcon, Skyhawk asal Skadron Udara 11 terpaksa hengkang ke Makassar dalam operasi Boyong-2 (1988). Operasi Boyong-1 adalah pemindahan Skadron Udara 12 (A-4) ke Pekanbaru tahun 1984.
Roda memang terus berputar. Tidak selamanya sesuatu berada di atas begitu pula sebaliknya. Akhir 1990-an embargo militer melanda Indonesia. Kesiapan pesawat kian menurun akibat dukungan logistiknya yang terhenti tiba-tiba. Ironisnya, tuntutan tugas terhadap F-16 yang bersarang di Skadron Udara 3, Lanud Iswahjudi malah meningkat. Meskipun dengan tertatih-tatih, tugas negara yang mulia tetap dipikul dengan penuh kebanggaan.
Terbukti pada Juni 2000, di atas Pulau Gundul, Kepulauan Karimunjawa, untuk pertama kalinya F-16 Indonesia berhasil menembakkan dua rudal udara ke darat AGM-65 Maverick tepat mengenai sasaran. Peristiwa ini menjawab keraguan sebagian masyarakat Indonesia terhadap kemampuan dan persenjataan TNI AU saat itu. Jawaban berikutnya dipertegas dengan berhasilnya penembakkan rudal udara ke udara AIM-9P4 Sidewinder di atas training area Lanud Iswahjudi, Oktober 2006.
Intersep pesawat asing
Dalam melaksanakan Operasi Pertahanan Udara Indonesia, F-16 selalu hadir untuk mencegah campur tangan pihak asing yang menggunakan wahana udara Indonesia. Identifikasi pesawat tempur asing di atas Pulau Bawean, bukti bahwa Indonesia negara berdaulat yang tidak bisa diperlakukan seenaknya. Tidak hanya berhenti di situ, F-16 juga sering terdadak untuk mencegat pesawat asing yang “melenceng” keluar jalur dan mendekati wilayah kedaulatan Indonesia. Baik disengaja atau tidak, pesawat asing apapun yang melanggar wilayah kedaulatan udara Indonesia telah menjadi tugas F-16 untuk menyergap dan mengusirnya. Masih beberapa kasus pencegatan lagi dilakukan F-16. Karena bukan konsumsi publik, peristiwa ini hanya terekam dalam dokumentasi skadron dengan klasifikasi rahasia.
Krisis perbatasan pun tidak lepas dari peran F-16. Operasi Penghadiran di Blok Ambalat menunjukkan bahwa Indonesia sangat serius mempertahankan setiap jengkal wilayah dan kedaulatannya.
Di pengujung 2006 lalu, tidak terasa F-16 telah cukup lama menjaga ruang udara Indonesia. Rentang waktu 17 tahun bukan hitungan masa yang singkat, tetapi cukup menjadi bukti loyalitasnya kepada negara. Peran-peran yang telah dilakukan F-16 menjadi cerita tersendiri tidak hanya bagi para pilot yang pernah mengawakinya, tapi juga masyarakat Indonesia secara keseluruhan




















F-16 Fighting Falcon adalah jet tempur multi-peran yang dikembangkan oleh General Dynamics, di Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya dirancang sebagai pesawat tempur ringan, dan akhirnya berevolusi menjadi pesawat tempur multi-peran yang sangat populer. Kemampuan F-16 untuk bisa dipakai untuk segala macam misi inilah yang membuatnya sangat sukses di pasar ekspor, dan dipakai oleh 24 negara selain Amerika Serikat.[1] Pesawat ini sangat popular di mata international dan telah digunakan oleh 25 angkatan udara. F-16 merupakan proyek pesawat tempur Barat yang paling besar dan signifikan, dengan sekitar 4000 F-16 sudah di produksi sejak 1976. Pesawat ini sudah tidak diproduksi untuk Angkatan Udara Amerika Serikat, tapi masih diproduksi untuk ekspor.
F-16 dikenal memiliki kemampuan tempur di udara yang sangat baik, dengan inovasi seperti tutup kokpit tanpa bingkai yang memperjelas penglihatan, gagang pengendali samping untuk memudahkan kontrol pada kecepatan tinggi, dan kursi kokpit yang dirancang untuk mengurangi efek g-force pada pilot. Pesawat ini juga merupakan pesawat tempur pertama yang dibuat untu menahan belokan pada percepatan 9g.
Pada tahun 1993, General Dynamics menjual bisnis produksi pesawat mereka kepada Lockheed Corporation, yang kemudian menjadi bagian dari Lockheed Martin setelah merger dengan Martin Marietta pada tahun 1995

Varian

Varian F-16 ditandai oleh nomer blok yang menandakan pembaruan yang signifikan. Blok ini mencakup versi kursi tunggal dan kursi ganda.

[sunting] F-16 A/B


F-16A Norwegia diatas daerah Balkan.
F-16 A/B awalnya dilengkapi Westinghouse AN/APG-66 Pulse-doppler radar, Pratt & Whitney F100-PW-200 turbofan, dengan 14.670 lbf (64.9 kN), 23.830 lbf (106,0 kN) dengan afterburner. Angkatan Udara AS membeli 674 F-16A dan 121 F-16B, pengiriman selesai pada Maret 1985.
Blok 1
Blok awal (Blok 1/5/10) memiliki relatif sedikit perbedaan. Sebagian besar diperbarui menjadi Blok 10 pada awal 1980-an. Ada 94 Blok 1, 197 Blok 5, dan 312 Blok 10 yang diproduksi. Blok 1 model awal produksi dengan hidung dicat hitam.
Blok 5
Diketahui kemudian bahwa hidung hitam menjadi identifikasi visual jarak jauh untuk pesawat Blok 1, sehingga warnanya diubah menjadi abu-abu untuk Blok 5 ini. Pada F-16 Blok 1, ditemukan bahwa air hujan dapat berkumpul pada beberapa titik di badan pesawat, sehingga untuk Blok 5 dibuat lubang saluran air.
Blok 10
Pada akhir 1970-an, Uni Soviet secara signifikan mengurangi ekspor titanium, sehingga produsen F-16 mulai menggunakan alumunium. Metode baru pun dilakukan: aluminum disekrup ke permukaan pesawat Blok 10, menggantikan cara pengeleman pada pesawat sebelumnya.
Blok 15
Perubahan besar pertama F-16, pesawat Blok 15 ditambahkan stabiliser horizontal yang lebih besar, ditambah dua hardpoint di bagian dagu, radar AN/APG-66 yang lebih baru, dan menambah kapasitas hardpoint bawah sayap. F-16 diberikan radio UHF Have Quick II. Blok 15 adalah varian F-16 yang paling banyak diproduksi, yaitu 983 buah. Produksi terakhir dikirim pada tahun 1996 ke Thailand. Indonesia memiliki varian ini sebanyak 12 unit.
Blok 15 OCU
Mulai tahun 1987 pesawat Blok dikirim ke dengan memenuhi standar Operational Capability Upgrade (OCU), yang mencakup mesin F100-PW-220 turbofans dengan kontrol digital, kemamampuan menembakkan AGM-65, AMRAAM, dan AGM-119 Penguin, serta pembaruan pada kokpit, komputer, dan jalur data. Berat maksimum lepas landasnya bertambah menjadi 17.000 kg. 214 pesawat menerima pembaruan ini, ditambah dengan beberapa pesawat Blok 10.
Blok 20
150 Blok 15 OCU untuk Taiwan dengan tambahan kemampuan yang serupa dengan F-16 C/D Blok 50/52: menembakkan AGM-45 Shrike, AGM-84 Harpoon, AGM-88 HARM, dan bisa membawa LANTIRN. Komputer pada Blok 20 diperbarui secara signifikan, dengan kecepatan proses 740 kali lipat, dan memori 180 kali lipat dari Blok 15 OCU.
INDONESIA AKAN MEBELI 22 UNIT F16 TERBARU YAITU F16 C/D

FOTO : BY RAHAKUNDINI

TNI Sambut Baik Hibah Pesawat F16
Tribun Pekanbaru - Kamis, 11 November 2010 19:51 WIB
f16.jpg
JAKARTA, Tribunnewspekanbaru.com - Rencana hibah 24 pesawat tempur F16 dari Amerika Serikat disambut senang oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hal tersebut disampaikan oleh Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, usai melepas kontingen Garuda, di Markas Besar TNI, Cilangkap, Rabu (11/11/2010).

Menurutnya, proses hibah tersebut kini masih dalam proses politik bidang pertahanan maupun sikap negara, namun demikian pihaknya terus mendorong agar hibah tersebut dapat diterima.

Panglima TNI menganggap hibah pesawat bekas tersebut sebagai pilihan terbaik, jika dibandingkan membeli sejumlah pesawa tempur baru, namun dalam jumlah yang lebih sedikit.

Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa jika pesawat F16 hasil hibah tersebut memiliki airframe yang bagus, serta kemampuan combat-nya ditingkatkan, maka itu sama saja kualitasnya dengan pesawat baru.

"Jadi kenapa tidak jika akhirnya kita dapat (pesawat F16) dalam jumlah besar, tapi dengan kemampuan komponen yang baru" tambahnya.

Proses pembicaraan hibah tersebut, menurutnya selain untuk menjaga hubungan antar kedua negara agar tetap terjalin baik, juga agar masalah-masalah yang dulu ada tidak lagi terjadi. Pasalnya F16 yang telah dimiliki Indonesia suku cadangnya sempat diembargo AS.

"Di sisi lain kita juga ingin mengembangkan industri dalam negeri untuk mendukung pesawat-pesawat yang sudah ada sekarang," katanya. (Tribunnews/Nurmulia Rekso P)

Penulis : johanes
Editor : johanes
Sumber : Kompas.com


Angkasa Yudha 2010

Pesawat Tempur TNI AU Gempur Sangatta

DISPENAU
DISPENAU
F-16 Fighting Falcon dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahyudi persiapan take off dari Lanud Sultan Hasaniddin siap menggempur Sangata dalam rangka Latihan Puncak Angkasa Yudha 2010.*
JAKARTA, (PRLM).- Berbagai kekuatan tempur TNI Angkatan Udara dari beberapa skuadron udara yang didukung berbagai jenis pesawat termasuk Paskhas dengan Operasi Udara menggempur wilayah Sangatta yang berada di wilayah Provinsi Kalimantan Timur yang dikuasai oleh musuh, Rabu (27/10).
Musuh (merah) diperankan oleh Wasit Pengendali (Wasdal), Koopsau I dan Kosekhanudnas I dengan dukungan kekuatan darat (infanteri), laut kapal (fregat) dan udara. Dari pengamatan intelejen, kekuatan udara merah didukung dengan berbagai pesawat tempur, angkut, helikopter, radar dan logistik yang kuat.
Dalam menggempur wilayah Sangatta, kekuatan udara TNI AU (Biru) diperankan oleh Koopsau II, Kohanudnas dan Paskhas, mendapat perlawanan dari kekuatan udara musuh dengan kekuatan yang dimilikinya.
TNI AU yang diperkuat oleh berbagai jenis pesawat tempur di antaranya F-16 Fighting Falcon, F-5 Tiger II, Hawk 109/209 dan Sukhoi SU-27/30 MK/MKS, sedangkan unsur angkut didukung oleh pesawat C-130 Hercules, F-27 Fokker dan CN-235, Pesawat intai Boeing 737, Helikopter sebagai pesawat SAR tempur yang didukung Paskhas serta Satuan Radar.
8 Hawk 109/209 diterbangkan dari Lanud Tarakan, 4 F-5 Tiger II dari Lanud Balikpapan, 6 F-16 Fighting Falcon dari Lanud Sultan Hasanuddin, 4 SU-27 MK/MKS dari Lanud Sultan Hasanuddin, 1 KC-130 Hercules dari Lanud Sultan Hasanuddin, dan 2 C-130 dari Lanud Abdulrachman Saleh Malang.
Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat SIP mengatakan, keberhasilan tugas yang telah dilaksanakan agar dijadikan pijakan awal untuk meningkatan keberhasilan yang lebih besar dalam tugas yang lebih berat dan sulit. Mengingat ke depan TNI Angkatan Udara sedang dan akan terus meningkatkan kekuatan udaranya secara bertahap.
Diharapkan, melalui latihan Angkasa Yudha Tahun Anggaran 2010, dapat dicapai suatu kondisi yang ideal dalam konteks hubungan komando dan staf pada proses pengambilan keputusan tingkat Gladi Posko maupun dalam kenyataan pada saat Manuver Lapangan. (Mun/das)***

pikiran rakyat

Latihan Bersama TNI AU-RAAF Berakhir

F-16 TNI AU. (Foto: detikFoto/Chaidir Anwar Tanjung)

5 September 2009, Kupang -- Latihan bersama TNI Aangkatan Udara (AU) dan Angkatan Udara Australia (RRAF) di kawasan udara Darwin, Northern Territory (NT), Australia, berakhir sejak Jumat (4/9).

Empat pesawat tempur F-16 TNI AU yang terlibat latihan tersebut, Sabtu (5/9), tiba di Pangkalan Udara TNI AU El Tari Kupang sebelum melanjutkan penerbangan ke Skuadron Udara Tiga Lanud Iswahyudi. Prajurit TNI AU lainnya yang berjumlah 90 orang, juga telah kembali ke Tanah Air bersama dua pesawat Hercules milik TNI AU.

Kepala Penerangan Lanud El Tari Kupang Lettu Tari Dedy Setiawan mengatakan latihan yang dimulai 31 Agustus 2009 tersebut berlangsung sukses. Latihan itu bertajuk 'Elang Ausindo 2009' melibatkan tujuh pesawat temput F-18 milik RAAF.

"Latihan ini bertujuan meningkatkan kualitas tempur dan ketahanan awak pesawat, dan meningkatkan hubungan Indonesia-Australia, " katanya ketika dihubungi wartawan di Kupang, Sabtu. Latihan tersebut mwrupakan kelanjutan latihan yang pernah digelar di Makasar, Sulawesi Selatan pada 2007. Latihan antara lain dilakukan dengan teknik tempur udara antara pesawat TNI melawan pesawat RAAF dan manuver udara.

MEDIA INDONESIA


Pemerintah Disarankan Terima Hibah F16  

AP Photo
TEMPO Interaktif, Jakarta - Pemerintah disarankan menerima tawaran hibah 24 pesawat F16-A bekas dari Amerika Serikat. Menurut pengamat militer dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jaleswari Pramodhawardani, tawaran Amerika itu bisa mencukupi kebutuhan alat utama sistem senjata (alutsista) pemerintah "Jumlah 24 pesawat itu setidaknya bisa untuk satu skuadron (enam belas pesawat)," kata Jaleswari kepada Tempo, Kamis (11/11).

Namun, jika jadi menerima tawaran Amerika, ujar Jaleswari, ada beberapa hal yang harus dikritisi. Pertama, pemerintah mesti terlebih dulu memastikan apakah penyediaan suku cadang dan perawatannya satu paket dengan hibah ke-24 F16 bekas.

Jaleswari mencemaskan, peristiwa kesulitan suku cadang akibat embargo bantuan militer Amerika ke Indonesia pada 1999, terulang. "Kita punya pengalaman pahit diembargo karena peristiwa Timor Timur. Nah karena itu harus dipastikan, apakah kali ini Amerika melengkapi hibah dengan jaminan maintenance."

Kedua, tentunya pemerintah juga harus memastikan ke-24 armada itu dalam kondisi bagus. "AS mau menghibahkan F16 kan karena mereka akan menggunakan strategi baru. Mereka akan memakai pesawat yang teknologinya lebih baru, F35," kata Jaleswari.

Yang juga harus diperhatikan pemerintah, kata Jaleswari, adalah varian alutsista. "Keberagaman alutsista itu tidak menguntungkan kita. Kita tidak bisa membangun kekuatan pertahanan dengan alutsista yang beragam. Bagaimana mensinergikannya ? Ini harus dipikirkan."

Meski banyak hal harus dipertimbangkan sebelum menerima hibah Amerika, Jaleswari tetap menganggap tawaran 24 F16 bekas jauh lebih tepat dibanding pemerintah membeli pesawat tempur baru.

Ia memberi gambaran, jika membeli pesawat baru, pemerintah harus menunggu minimal delapan tahun sampai akhirnya pesawat tersebut "diantar" ke Indonesia.

"Beli pesawat itu nggak kayak beli mobil yang inden setahun aja udah ada barangnya. Misal kita mau beli Sukhoi, ya baru 8-10 tahun sampainya. Itu pun ketika pesawatnya datang, teknologinya udah mulai ketinggalan dengan pesawat yang lebih baru lagi," kata dia.

Karena itu, kata dia, menerima 24 F16 bekas Amerika adalah pilihan yang paling tepat untuk pertahanan Indonesia yang sedang membutuhkan tambahan skuadron.

"Saya pikir nggak masalah pesawat itu bekas. Untuk sementara pakai itu dulu sampai uang kita cukup untuk beli pesawat baru. Dan kalau DPR melihat alutsista dibutuhkan, ya harus siapkan anggarannya," ujar Jaleswari.

ISMA SAVITRI

tempointeraktif

1 komentar:

  1. semoga indonesia dapat membeli sukhoi jet pakfa T 50 steil garuda menambah garang dan juga mampuni kuat raksasa indonesia raya

    BalasHapus